\
Di era semua orang genggam telepon saat sekarang ini, kartu pos rasanya sudah hampir tersingkir dari kehidupan berkomunikasi. Perangkat telematik telah menggantikannya dengan membuat berita terkirim dan terterima secara semerta. Kartu pos mungkin tinggal menjadi perangkat untuk menjawab TTS–karena kuis-kuis yang lain juga telah dijalankan melalui perantara SMS.1
Hal ini berbeda dari kebiasaan masyarakat Eropa, setidaknya pada kenalan dan teman yang saya temui. Mereka menyempatkan diri mengirim kartu pos kepada kolega atau keluarga jika mereka pergi ke suatu tempat. Padahal, mungkin dalam seminggu lagi mereka akan bertemu. Maka dapat kita temui penjual kartu pos di berbagai tempat, terutama pada objek-objek wisata. Dinas pos pun berjalan dengan baik, mendapatkan penghasilan dari pengiriman kartu pos yang menurut perhitungan “kalkulator Indonesia” saya tidak murah juga ongkosnya.

Saya suka membeli kartu pos jika berkunjung ke museum-museum di Eropa. Hal ini bukan tanpa alasan. Selain saya suka seni grafis, kartu pos merupakan benda yang paling murah yang dapat diperoleh di kios cendera mata museum. Benda ini juga merupakan oleh-oleh yang saya tega untuk meminta jika ada teman bepergian … Di Jepang saya rasa kartu pos juga murah, terutama jika dibanding dengan suvenir lain yang pating plenik khas itu.
Beberapa kali saya membuat kartu pos sendiri. Umumnya kartu itu untuk cendera mata. Salah satunya adalah untuk suvenir pernikahan kakak ipar yang demen sama filateli.2
Begitu ceritanya, sehingga terdapat setumpuk kartu pos yang saya simpan. [z]
Catatan Kaki
- Seingat saya sekitar tahun 90-an diselenggarakan ketoprak sayembara di televisi lokal yang membuat kartu pos sulit dicari di Yogyakarta karena habis di-rush oleh masyarakat yang hendak mengirim undian. ↩︎
- Update: di paruh kedua tahun 2025, mendapat kabar jika kartu pos suvenir manten ini ditemukan di Pasar Kangen Jogja, semacam festival yang juga menjual barang-barang bekas. ↩︎