\
Arkeologi mainan umumnya dijabarkan sebagai upaya menemukan mainan di masa lalu dan menginterpretasi maknanya. Di Indonesia, sub-disiplin ini belum berkembang meski terdapat beberapa artikel atau penelitian yang terkait dengan objek dari masa lalu yang diduga merupakan mainan.
Tinggalan gerabah di Trowulan yang berbentuk figuratif sering diduga sebagai bagian dari mainan di masa lalu. Begitu pula dengan temuan miniatur lain, seperti rumah. Celengan gerabah yang ditemukan sangat banyak di Trowulan diduga menjadi bagian dari dunia anak-anak meski tidak selalu berfungsi sebagai mainan.
Di tempat lain, temuan gerabah berbentuk potongan persegi atau bulat sering dianggap sebagai gacuk, “pion” untuk menjalankan permainan tertentu.
***
Etnografi mainan mungkin lebih berkembang dari pada arkeologi mainan. Setidaknya, dokumentasi atas mainan (atau tepatnya permainan) tradisional cukup banyak. Namun kajian-kajian itu lebih menekankan pada tatacara bermain daripada objek bendawi yang digunakan.
***
Museum Kolong Tangga memiliki koleksi yang cukup bagus untuk objek-objek mainan, dari tradisional hingga modern, dari berbagai tempat di dunia. Arkeologi mainan dapat melacak aspek-aspek dari berbagai mainan yang ada, membandingkan (bentuk) mainan dari satu daerah dengan daerah lain, atau bahkan satu belahan bumi ke belahan yang lain. Keunikan atau keuniversalan mainan akan dapat diketahui, dan adaptasi atau pengaruh setempat yang memunculkan dan memodifikasi mainan dapat juga diungkap.
- Baca juga: Museum dan Anak-Anak
***
Karena arkeologi juga dapat meneliti masa kini (lihat kuadran yang menyilangkan data dan waktu yang diinterpretasi), maka mestinya arkeologi mainan dapat pula berkembang untuk meneliti mainan di masa sekarang, untuk menginterpretasi masa sekarang pula. [z]