Lebaran, 1446

\
Lebaran tahun 2025 ini jatuh di hari Senin, 31 Maret 2025. Pemerintah menetapkan demikian melalui sidang isbat yang dilakukan pada hari Sabtu petang. Berhubung hilal belum dilaporkan terlihat, dan secara hisab memang masih di bawah ufuk saat matahari terbenam di tanggal 29 Ramadhan, maka bulan tersebut disempurnakan tiga puluh hari.
Muhammadiyah telah jauh-jauh hari mengumumkan bahwa Idulfitri akan jatuh di hari Senin. NU juga menetapkan tanggal 31 Maret sebagai Idulfitri tahun ini. Beberapa kelompok masyarakat diberitakan telah melakukan salat Idulfitri di hari Minggu, 30 Maret. Umumnya mereka beralasan bahwa hilal telah terlihat di bagian lain di dunia, dan memang beberapa negara telah melakukan salat Idulfitri tanggal 30 Maret. Hal ini dilakukan dengan pandangan antara lain bahwa satu dunia ini merupakan satu kesatuan. Muhammadiyah juga menyatakan bahwa kali ini terakhir menggunakan hisab dan tahun depan akan mengikuti kalender global.
Saya dan keluarga Ngasem melaksanakan salat Idulfitri1 di Masjid Gedhe Kauman. Sudah berangkat lebih awal daripada biasanya, tetapi tetap saja saya mendapat tempat paling belakang, mepet di trotoar sisi alun-alun di depan masjid. Alun-Alun Lor, salah satu tempat populer untuk salat Id warga Yogyakarta, selama beberapa tahun terakhir memang tidak lagi digunakan untuk keperluan ini, sehingga dipindah ke halaman masjid.
***

Berhubung membawa ibu mertua, saya memakai mobil untuk jarak kurang dari satu kilometer. Parkir di depan eks Bank Mataram di barat daya alun-alun, tukang parkir bilang harus pergi setelah salat karena akan digunakan oleh keraton. Ongkos parkir Rp. 10.000,- dibayar di awal, dengan karcis.
Kraton Yogyakarta memang menggelar acara grebeg hari ini. Saya tidak nonton acara tersebut, tapi melihat beberapa orang abdi dalem sekitar jam sembilan pagi berjalan ke arah Dalem Mangkubumen. Di tempat tersebut beberapa tahun terakhir juga dikirimi gunungan oleh Kraton.
Saya belum tahu alur yang akan dilewati arakan gunungan karena gerbang pagar besi alun-alun tadi masih tertutup. Biasanya saat dahulu alun-alun belum berpagar, dari Sitihinggil, gunungan akan dibawa melewati Tratag Pagelaran, masuk ke alun-alun, kemudian terdapat upacara pelepasan. Sebagian gunungan akan dibawa belok ke barat ke arah masjid, sebagian ke utara karena akan dibawa ke Pakualaman, selain yang dibawa ke Dalem Mangkubumen.
Pagi lebaran ini hanya terlihat bendera-bendera bergada dan umbul-umbul telah terpasang di pagar tersebut, dengan posisi berjejer di selatan gerbang barat.

***
Jika melihat kapasitas halaman masjid dan limpahannya hanya sampai ke jalan, dan mungkin di belakang saya ada yang salat di atas trotoar, sebenarnya peserta salat Id di halaman Masjid Gedhe ini jauh lebih sedikit daripada saat di alun-alun. Namun di sekitar tempat ini juga terdapat beberapa lokasi salat Id, yaitu di Masjid Rotowijayan yang hanya beberapa puluh meter ke arah selatan, di terminal Ngabean, beberapa ratus meter juga ke arah barat, dan di halaman SD Kraton. Di alun-alun selatan juga diselenggarakan salat Id.
Yang membuat saya tolah-toleh adalah bahwa tidak banyak pedagang makanan, bahkan pedagang balon saya hanya melihat satu orang. Biasanya di luar sudut alun-alun barat daya ini terdapat pedagang bakso dan soto, dan di jalan di barat Pracimosono terdapat penjual sate gajih yang dikerumuni orang. Kali ini sepertinya mereka tidak ada.
***
Yang menjadi pemberitaan saat lebaran antara lain adalah arus mudik, dan nanti arus balik. Libur lebaran kali ini awalnya lalu lintas cukup lancar, setidaknya hal itu yang terlihat dari berbagai pernyataan pejabat di media. Tapi memang, pada Minggu sore, perjalanan “mudik” saya sejauh 30 km yang biasanya ditempuh sejam, kali ini cepat barang lima sampai sepuluh menit.
Hal ini mungkin karena beberapa hal. Pertama, libur yang panjang. Nyepi untuk masyarakat Hindu berlangsung hari Sabtu, 29 Maret. Hari sebelumnya, yaitu tanggal 28 Maret ditetapkan sebagai cuti bersama. Oleh karena itu, sebagian pemudik telah berangkat lebih awal. Puncak arus mudik bahkan diperkirakan terjadi pada hari pertama libur ini, yaitu hari Jumat.
Kedua, mungkin juga karena infrastruktur jalan yang lebih baik. Jalan tol telah dapat digunakan dengan lebih panjang, juga dengan tambahan di beberapa ruas yang disebut berstatus fungsional.
Ketiga, mungkin karena situasi perekonomian yang kurang baik. Sebagian orang cenderung menahan pengeluaran sehingga memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan mudik.
Kemacetan terkabar terjadi justru setelah lebaran. Hingga hari keempat, beberapa ruas jalan di DIY dikabarkan macet, yaitu di Jalan Solo sekitar Prambanan-Kalasan dan di Jalan Magelang di sekitar Sleman-Tempel. Terjadi juga bottle neck setelah keluar tol baru, di Exit Tol Prambanan. Begitu juga di Exit Tol Tamanmartani yang jalannya baru berstatus fungsional. Beberapa unggahan di media sosial memperlihatkan kendaraan yang masuk ke berbagai jalan di sekitar kawasan itu.2
***
Selamat idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. [z]
Baca juga
Catatan Kaki