“Aku mau nggoleki gendera putih kok ora ketemu, jebul genderane abang,” kata Evi, sebut saja begitu, yang sedikit tersesat ketika mencari lokasi takziyah di Klaten, pagi tadi. Bendera penanda lokasi duka cita ini memang berbeda-beda. Di Klaten umumnya berwarna merah, di Solo dan Jakarta berwarna kuning, serta di banyak tempat berwarna putih.
Bendera menjadi penanda tempat duka sehingga mudah dicari oleh pelayat. “Mengko nggoleki gendera putih wae,” sering diungkapkan jika tidak tahu lokasi pelayatan dengan tepat. Perkara warna yang berbeda-beda, saya tidak yakin bahwa pemilihannya berhubungan, atau menyimbolkan duka yang lokasinya ditandai tersebut. Di lingkungan saya, warna bendera putih memudahkan pembuatannya: ambil kertas hvs atau sobekan sisa kain kafan. Beri tangkai, jadilah bendera penanda lelayu.
Akan tetapi di banyak kasus, bendera merupakan simbol. Terdapat nilai-nilai yang dapat diterangkan oleh para ‘pendukung’-nya, selain bahwa kadang bendera hanya menjadi tanda belaka seperti telah disebut di atas.1
Sebagai simbol, bendera akan dikelola sedemikian. Dalam hal ini, dibuat beragam aturan, baik bentuk, isi, cara penggunaan, termasuk sanksi bagi yang melanggar.
***
Bendera, rupanya berasal dari bahasa Portugis, “bandeira”, atau bahasa Spanyol “banderas”. Kita ingat aktor Spanyol Antonio Banderas yang antara lain membintangi film “The Mask of Zorro” tahun 1998 dan “The Legend of Zorro” tahun 2005.
Dalam bahasa Jawa terdapat kata “dwaja”, bahasa Jawa Kuno “dvaja” yang merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta. Bahasa Indonesia menyerapnya sebagai duaja.
(kbbi.kemendikbud.go.id/entri/duaja)
***
Perkara bendera sebagai lambang yang penuh makna simbolik, telah kita pelajari sejak kecil. Warna pada bendera kita, misalnya, kita hapal. Juga latar mengapa digunakan warna tersebut dan bagaimana peran dalam sejarah perjuangan, kita ketahui dengan baik. Bendera kita dianggap mempersatukan, juga menandai kemerdekaan–dengan pengibaran bendera di halaman rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, di pagi hari tanggal 17 Agustus 1945.
Muhammad Yamin melacak asal simbol bendera Merah Putih ini dan menulis buku “6000 Tahun Sang Merah Putih” di tahun 1958. Hal ini menekankan bahwa bendera ini menjadi simbolisasi kepribadian bangsa.
***
Hari-hari menjelang perayaan Proklamasi Kemerdekaan di bulan ini terdapat diskusi publik tentang bendera. Bukan tentang Merah Putih, melainkan tentang bendera dari hasil imajinasi, anime One Piece. Banyak orang mengibarkan bendera bajak laut berwarna hitam ini.
Akan menarik mengetahui dengan analisis semiotika, sebenarnya apa simbol-simbol yang terlibat dalam perbincangan ini. Siapa yang mengangkat simbol tersebut, dan digunakan untuk apa, bagaimana pula cara menciptakan dan mempertahankan simbol tersebut. Pun, bagaimana reaksi dari pihak lain seperti pemerintah, aparat keamanan, atau malah tetangga dan sejawat. [z]
Catatan Kaki
- Saya tidak sedang menggunakan triadik Peircian yang memisah tanda menjadi ikon, indeks, dan simbol, meski mungkin bendera layatan itu adalah indeks: ada bendera merah karena ada layatan. ↩︎