Saya mengunjungi pulau kecil di utara Jepara ini, bersama rombongan FIB UGM, dengan dilaksanakan oleh salah satu biro perjalanan wisata di Yogyakarta. Dari Pelabuhan Kartini di Jepara, kami menumpang kapal cepat yang akhirnya menempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan ongkos dua ratus ribu rupiah untuk kelas eksekutif dewasa. Kapal ini lebih cepat sejam daripada kapan feri atau roro pada rute yang sama. Namun, kapal feri tentu lebih murah dan dengan ukuran yang lebih besar tentunya lebih tentang melayari rute ini.
Keadaan Karimunjawa sebenarnya di luar bayangan saya. Dari bacaan-bacaan lama saya membayangkan pantai rerawa dengan tetumbuhan mangrove, ditambah lagi mitos tentang pohon-pohon bertuah, terutama dewadaru.
Tentu saja juga tahu tentang pulau ini sebagai ODTW, objek dan daya tarik wisata. di medsos banyak beredar foto bersama hiu di kolam jaring. Juga foto tugu tulisan “Karimun Jawa”. Seorang teman mengelola salah satu resort yang ada di pulau ini, dan beberapa bulan yang lalu dibuka penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Karimunjawa.
***
Siang itu, mendarat di pelabuhan penumpang Karimunjawa sekitar setengah dua belas, di hari Jumat. Azan sudah mengalun dari menara masjid. Rombongan dijemput dengan kendaraan MPV semacam avanza begitu, menuju hotel yang tidak begitu jauh, hanya satu kilometer. Avanza dipacu cepat di jalan aspal yang tidak lebar, hingga tidak sampai lima menit, kami telah sampai hotel tempat menginap selama dua malam ke depan.
Hotel ini terletak pada lereng–Karimunjawa nyaris seluruhnya berupa bukit dengan pemukiman di wilayah pantai. Blok-blok kamar berada terpisah pada ketinggian yang berbeda sehingga kadang agak awang-awangen jika hendak pergi ke lobi hotel misalnya. Di tengah kompleks terdapat kolam renang yang berada di dekat restoran sehingga dapat menjadi perluasan ruang makan saat tetamu banyak.
Sebenarnya cukup banyak sarana akomodasi di pulau ini, namun kebanyakan berupa resort atau penginapan mewah lainnya.
***
Pulau Karimunjawa ini seperti terbagi dua. Bagian selatan cenderung berupa hutan, dengan beberapa spot pemukiman di dekat pantai. Di sisi utara yang lebih kecil, dan terpisah oleh genting dengan hutan mangrove, pada peta google terlihat adanya banyak pemukiman. Bandar udara juga terdapat pada bagian ini.
Pusat keramaian berada di sekitar alun-alun, yaitu tanah lapang di seberang kantor kecamatan, yang merupakan tanjung sempit diapit pantai di kiri-kanan, pun di ujung selatan. Di sisi barat terdapat pelabuhan rakyat, tempat aktivitas turisme yang menyeberang ke pulau lain. Peperahu motor berjejer pada dermaga di tempat ini.
Keramaian alun-alun terjadi di malam hari. Di sisi barat terdapat lapak pedagang pakaian dan cendera mata alias oleh-oleh, sementara di sisi timur lahan seluas lapangan bola kecil ini terdapat para pedagang makanan laut yang dibakar.
Toko cendera mata, malam itu hanya ada satu di sisi alun-alun. Namun saat kembali ke hotel melalui jalan di ujung timur laut dari alun-alun, terlihat beberapa toko–sepertinya distro atau toko oblong–dan beberapa kafe.
Selain turis lokal, terdapat cukup banyak turis manca. Di Pulau Cemara Besar tempat kami makan siang rasanya hanya ada satu-dua orang asing, mungkin mereka ke pulau-pulau lain yang lebih ‘privat’. Di Tanjung Gelam yang menghadap ke barat juga terdapat bagian yang banyak turis manca berjemur saat menjelang sore kami berkunjung.
Cukup banyak titik wisata di kepulauan ini. Pada peta di terminal penumpang di pelabuhan terdapat daftar 29 titik, baik di Pulau Karimunjawa maupun di pulau-pulau lebih kecil di sekitarnya. Mungkin daftar itu mestinya dapat diperpanjang karena selalu muncul objek baru, seperti Bukit Love, atau alun-alun yang mesti menjadi sasaran kunjungan namun tidak tercantum. Di akhir pekan ini, rombongan kami hanya dapat mengunjungi tujuh spot, termasuk alun-alun. Satu spot terlewati rombongan karena ombak besar, dan satu spot saya lewati sendiri karena terlambat bergabung.
Kegiatan wisata di Karimunjawa antara lain adalah berfoto di kolam berisi hiu-hiu kecil, snorkling, bermain di pantai baik hanya duduk dan berfoto, atau menyewa jetski (meski mereknya belum tentu Kawasaki), kano, atau banana boat dan sebangsanya, dan difoto dengan kamera drone. Di beberapa titik kita bisa nunggu matahari terbenam, atau berfoto bersama tugu ikon wisata pulau ini.
***
Kami menebak-nebak sebenarnya, kira-kira akan mendapat suguhan apa sebagai makanan berat. Kami yakin tidak akan diberi daging baik sapi maupun ayam.
Kebanyakan makanan yang disajikan baik di hotel maupun–tentunya–saat makan siang di Pulau Cemara Besar, berbasis pada ikan. Pun, di sepanjang sisi timur alun-alun yang telah saya sebut di muka, para pelapak menjual makanan laut yang dibakar langsung di tempat menghasilkan asap yang pekat membubung.

Saat makan siang di Pulau Cemara Besar, rupanya perahu membawa nasi dan sayur dari Karimunjawa, termasuk piring dan gelas plastik. Ikan dibakar langsung di pulau tersebut, di bawah semak dan pepohonan yang masih rimbun di salah satu sisi pulau. Cuma, lucunya, tidak dibawakan sendok makan bahkan juga sendok sayur. Makan dengan tangan adalah lumrah karena lauk ikan bakar yang tentu ada durinya, tetapi mengambil sayur? Untungnya, bukan sayur dengan banyak kuah.
[tbc]