Museum sebagai Media Kajian dan Pembelajaran Sejarah

Disampaikan pada Pembekalan Mahasiswa Magang, Prodi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta, 15 September 2025


Museum merupakan lembaga yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga sebagai pusat riset, pendidikan, dan komunikasi budaya. Dalam konteks pendidikan sejarah, museum memiliki peran strategis karena koleksinya merupakan sumber otentik yang dapat dijadikan dasar kajian akademik maupun pembelajaran publik.

International Council of Museums (ICOM) tahun 2022 mendefinisikan museum sebagai “lembaga permanen, nirlaba, dan terbuka untuk umum, yang berfungsi mengumpulkan, melestarikan, meneliti, menafsirkan, dan memamerkan warisan budaya berwujud maupun tak berwujud“. ICOM menambahkan batasan yang cukup panjang yang menjadi ciri khas dari definisi terbarunya, yaitu “Terbuka untuk umum, mudah diakses, dan inklusif, museum mendorong keberagaman dan keberlanjutan. Museum beroperasi dan berkomunikasi secara etis, profesional, dan dengan partisipasi masyarakat, menawarkan berbagai pengalaman untuk pendidikan, hiburan, refleksi, dan berbagi pengetahuan.

Sementara itu, Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015 menegaskan bahwa museum berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan mengomunikasikan koleksi kepada masyarakat untuk pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, sosial, dan/atau pariwisata.

Dengan dasar tersebut, museum dapat diposisikan sebagai media sekaligus sumber penelitian dalam pendidikan sejarah.

1. Dari Cabinet of Curiosities ke Museum Modern

Awal mula museum modern dapat ditelusuri pada cabinet of curiosities di Eropa abad ke-16–17, ketika bangsawan dan ilmuwan mengumpulkan benda-benda aneh atau eksotis. Perkembangan berikutnya menekankan aspek ilmiah, seperti klasifikasi dan taksonomi yang berpengaruh pada sistem Linnaeus.

Di Hindia Belanda, peran ini terlihat misalnya dari kegiatan Georg Eberhard Rumpf (Rumphius), seorang kelahiran Jerman yang merupakan naturalis V.O.C. yang mengoleksi tumbuhan dan kerang di Ambon, sekitar tahun 1662. Ia kemudian menerbitkan beberapa buku terkenal, antara lain D’Amboinsche Rariteitkamer.

Kemudian, muncul lembaga ilmiah seperti Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1778, yaitu lembaga di Batavia yang mendorong penelitian seni, sains, arkeologi, etnografi, dan ilmu alam. Karena sumbangsihnya, lembaga ini kemudian mendapat gelar “Koninklijk” dari Kerajaan Belanda.

Di awal abad ke-20 muncul pula lembaga yang mirip, yaitu Java Instituut yang tahun 1935 mendirikan Museum Sonobudoyo di Yogyakarta. Lembaga ini beranggotakan baik orang Eropa maupun Indonesia.

Perjalanan ini menunjukkan transformasi dari sekadar pengumpulan benda aneh menjadi lembaga ilmiah dan pendidikan.

2. Nilai Penting Koleksi Museum

Menurut PP No. 66 Tahun 2015 Pasal 1 ayat 3, koleksi museum adalah bukti material yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, teknologi, dan pariwisata. Dalam kerangka Significance 2.0,1 koleksi museum setidaknya mengandung salah satu nilai sebagai berikut (disebut “primary criteria“).

  1. Historis, bahwa koleksi memberikan bukti peristiwa di masa lalu.
  2. Artistik, koleksi memiliki kualitas estetis tertentu.
  3. Ilmiah, koleksi dapat menjadi sumber pengetahuan.
  4. Sosial/Spiritual, koleksi berkaitan dengan identitas dan tradisi suatu komunitas.

Objek museum juga dapat menyampaikan beragam makna, baik sebagai data sejarah, simbol budaya, maupun media refleksi sosial.

3. Hubungan Museum dan Sejarah

Hubungan museum dengan sejarah terletak pada sifat koleksi sebagai bukti material hasil budaya dan alam. Koleksi museum berperan sebagai sumber primer untuk merekonstruksi peristiwa masa lalu. Selain itu, museum dapat menjadi ruang produksi pengetahuan sejarah melalui riset, interpretasi, dan narasi yang dikembangkan dalam pameran atau media edukasi.

4. Museum dan Praktik Museografis

Praktik museografis meliputi tiga fungsi utama: preservation (pelestarian), research (penelitian), dan communication (komunikasi). Artinya, museum tidak hanya menyimpan koleksi, tetapi juga melakukan riset untuk menemukan nilai penting koleksi dan menyampaikannya kepada masyarakat melalui pameran, edukasi, maupun publikasi.

5. Praktik Museum dengan Topik Sejarah

Praktik museum dalam pendidikan sejarah dapat dilihat dari tahapan sebagai berikut.

  1. Pengumpulan (Collecting), yaitu mencari objek yang relevan dengan aspek sejarah.
  2. Penelitian (Research), yaitu mengkaji provenance atau sejarah objek sebelum masuk ke museum, mengelaborasi nilai penting, dan menuliskan narasi historis. Objek dapat diteliti melalui konteks pembuatannya, peran dalam suatu peristiwa sejarah, atau keterkaitannya dengan tokoh/komunitas tertentu.
  3. Komunikasi (Communication), yaitu menyampaikan hasil riset melalui pameran, publikasi, materi edukasi, serta program-program pelestarian budaya. Dalam hal ini, museum juga berfungsi sebagai ruang inovasi dan kolaborasi dengan komunitas, termasuk dokumentasi sejarah lisan.

6. Museum sebagai Sumber Kajian Pendidikan Sejarah

Dalam pendidikan sejarah, museum memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai berikut.

  1. Sumber otentik. Koleksi museum menyediakan pengalaman langsung dalam mempelajari sejarah.
  2. Media naratif. Pameran museum memberi gambaran riwayat objek dan konteks peristiwa.
  3. Ruang pembelajaran interaktif. Kunjungan dan program edukasi melatih keterampilan untuk melakukan analisis historis.
  4. Sarana penguatan identitas. Museum melestarikan tradisi dan menumbuhkan apresiasi terhadap keragaman budaya.

Museum memiliki peran strategis dalam pendidikan sejarah karena koleksi yang dimilikinya tidak hanya berfungsi sebagai benda simpanan, tetapi juga sebagai sumber riset dan media komunikasi pengetahuan. Melalui proses pengumpulan, penelitian, dan komunikasi, museum mampu menghadirkan sejarah dalam bentuk narasi yang bermakna bagi masyarakat.

Dalam konteks pendidikan, museum dapat menjadi laboratorium sejarah yang hidup, tempat di mana generasi sekarang belajar dari masa lalu untuk memahami identitas dan membangun masa depan. Oleh sebab itu, penguatan fungsi riset sejarah di museum menjadi penting, baik dalam kerangka akademis maupun edukasi publik. [z]

Bersama Kaprodi, pengajar, perwakilan museum, dan mahasiswa peserta magang.

Catatan Kaki

  1. Panduan membuat penilaian atas koleksi, diterbitkan oleh Collections Council of Australia ↩︎