Nonton Grebeg Tahun Dal, 2025

Sudah agak lama saya tidak nonton grebeg. Terakhir mungkin tahun 2019, pascabertugas menjadi tim kurator pameran di Sitihinggil. Selain itu, kadang hanya melihat prajurit lewat di depan rumah mertua, saat mereka berbaris dari Pracimasana ke Magangan untuk menjemput gunungan.

Kali ini saya nonton bersama keluarga besar, setidaknya mumpung tahun Dal. Grebeg tahun Dal yang terjadi delapan tahun sekali ini berbeda dari grebeg tahun biasa. Tadi malam sultan datang ke masjid gedhe, mendengarkan pembacaan riwayat Kanjeng Nabi, kemudian nyebar udik-udik, dan menjebol dinding bata di sisi selatan.

Pada grebeg sendiri, selain gunungan yang biasa, juga terdapat gunungan brama, yaitu gunungan yang berisi anglo berapi sehingga mengeluarkan asap. Gunungan ini dibawa kembali ke kraton, tidak ikut dibagikan ke masyarakat di halaman masjid.

Seingat saya, saya agak “mat” nonton grebeg pertama adalah juga tahun dal, sampai tengah malam menunggu udik-udik disebar di pagongan, Masjid Gedhe, di tahun 1990-an. Pernah juga subuh mengikuti gunungan diangkat dari Magangan ke Kemandungan Lor, nunggu di depan Regol Danapertapa. Heran juga, mengapa waktu itu dapat masuk kraton sekedar untuk motret.

Kali ini saya dan rombongan keluarga masuk ke Pagelaran, dengan membeli tiket tentunya. Tiket menggunakan gelang kertas dari Museum Wahanarata yang nantinya ternyata dapat digunakan untuk masuk ke museum kereta tersebut.

Dari Pagelaran tentu hanya dapat melihat iring-iringan prajurit, abdi dalem, wakil sultan, yang mengarak gunungan. Ada juga gajah dan kuda. Suasana meriah rebutah material gunungan tidak ada di tempat ini. Namun kali ini istimewa, karena sambil menunggu kembalinya iringan dari Masjid Gedhe, penonton di Pagelaran disuguhi orkestra kraton, yang membawakan tiga lagi perjuangan. Kebetulan hari ini bertepatan dengan tanggal Amanat 5 September 1945, yang disampaikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Pakualam VIII.

Kesan saya, seragam para prajurit relatif baru. Beberapa perlengkapan juga tampak baru. Saya juga baru kali ini melihat prajurit estri, atau perempuan, yang direkonstruksi dari bregada Langenkusuma di masa lalu. Mungkin kali ini diambil dari para penari, saya lihat beberapa penari kraton yang saya kenal ada di dalam barisan.

Beberapa tahun terakhir, setelah alun-alun tidak dapat dipergunakan, iringan grebeg tidak melintasi alun-alun, prajurit tidak juga berbaris dan memberikan salvo alias drel di sana. Iringan ini berbelok ke arah barat setelah melewati Tratag Pagelaran. Drel alias salvo mungkin diberikan di jalan alun-alun sisi barat.

Dalam barisan kali ini juga terdapat beberapa ekor gajah, digunakan untuk mengantar gunungan ke Pakualaman. Lamat-lamat saya juga mendengar jika terdapat gunungan yang diantar ke Kepatihan, namun saya tidak mendengar adanya gunungan untuk Mangkubumen seperti beberapa tahun terakhir telah dilakukan.

Yang sangat terasa berbeda, meski bukan acara grebegnya, adalah ketiadaan pasar malam, atau sering disebut sekaten. Resminya adalah Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS). Beberapa tahun terakhir, dengan ditutupnya alun-alun, maka memang tidak ada pasar malam. Namun, para penjual makanan dan properti khas masih ada. Saya masih melihat seorang bapak membawa pecut, cambuk, yang biasanya dibeli petani saat grebeg dan dibunyikan bersamaan dengan drel. Ada juga yang masih membawa telur merah jambu lengkap dengan rerumbai hiasannya. Di jalan di depan masjid juga masih ada para penjual nasi khas, sega gurih.

Pasar Malam merupakan tanda yang mudah dikenal akan keberadaan sekaten, mulai dari miyos gangsa, kondur gangsa, grebeg, hingga pentas wayang bedhol songsong. Saya sendiri baru ingat jika ada grebeg saat ditawari untuk ikut nonton, serta malam sebelumnya terdapat berita tentang jejak beteng oleh Sri Sultan, sebelum gamelan dibawa kembali dari halaman masjid.

Seperti telah disebut tadi, tiket nonton grebeg di Pagelaran ini menggunakan gelang tiket dari Museum Wahanarata. Dahulu, terdapat tiket tersendiri yang berbentuk leaflet, dengan keterangan tentang sepuluh bergada pada iringan grebeg. Mungkin tiket Wahanarata ini digunakan karena Pagelaran sudah tidak lagi dijadikan objek wisata di Kraton. Nah, dengan tiket ini, penonton di Pagelaran kemudian dapat mengunjungi Museum Wahanarata. [z]