Mencerita Serangga

Pagi tadi, kebetulan saya lihat pembukaan Omah Serangga di kompleks Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM di Berbah, Sleman timur. Fasilitas kecil namun menarik, memberikan gambaran sepintas tentang serangga, baik taksonomi maupun “peran”-nya. Dua topik tersebut, setidaknya, disajikan dalam dua ruang dari bangunan berukuran sekitar 4×5 meter persegi ini.

Di lingkungan UGM, saya kira ini adalah repositori ketiga tentang serangga yang ditujukan untuk publik. UGM memiliki Museum Biologi yang mestinya juga mengkoleksi serangga, juga memiliki Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu di kompleks Taman Kearifan atau Lembah UGM.

Menjelajah sebentar di Internet, muncul data bahwa konon serangga terbagi atas lebih dari satu juta spesies, yaitu tingkatan paling rendah dari sistem klasifikasi makhluk hidup. Jumlah serangga merupakan setengah dari organisme hidup yang diketahui. Oleh karena itu, pasti serangga sangat dekat dengan kehidupan manusia.

***

Dari sisi museografi, tiba-tiba muncul di kepala beberapa topik yang menarik tentang serangga untuk suatu pameran, baik science center, museum, atau yang lain, tentu selain taksonomi dan peran seperti yang sudah disampaikan oleh pameran di Omah Serangga tersebut. Pemilihan topik, dalam pembuatan storyline pameran, tentu terkait dengan tujuan dari pameran tersebut, apakah akan mengenalkan aspek morfologi, taksonomi, atau yang lain seperti masalah sosial dan budaya.

Topik serangga di sekitar kita, misalnya, dapat menampilkan serangga-serangga yang berada di sekeliling rumah, yang mungkin tiap hari kita jumpai namun kita tidak tahu dengan pasti serangga apa. Atau bahkan kita tidak tahu jika binatang tersebut adalah serangga atau bagian dari metamorfosis serangga. Undur-undur misalnya, atau bahwa rayap dan laron itu binatang yang sama.

Atau serangga populer yang membuat masyarakat sering harus menghubungi pemadam kebakaran, yaitu tawon vespa, atau tawon ndas. Tonggeret yang sering kita dengar di awal musim kemarau juga hal yang menarik untuk diketahui. Masa kecil dulu saya dan teman-teman setiap sore mencari kumbang sothe dengan menumbuk lombok dan menyanyi: “The-the bothe ana lombok ana rase, rasene rase bonang, bonange lombok abang …”

Serangga juga menjadi bahan makanan, setidaknya di beberapa daerah. Belalang goreng di Wonosari cukup mahal harganya, dijual di pinggir jalan. Gendon, larva serangga di dalam pohon tertentu juga dikonsumsi. Ulat jati demikian pula. Kita ingat juga berita di awal tahun 2025 ini tentang Kepala BGN, yang juga entomolog, menyarankan serangga sebagai sumber protein pada menu MBG.

Hasil dari serangga juga kita konsumsi seperti madu, baik madu lebah apis (tawon madu) maupun lebah trigona (klanceng).

Sebagai hama, mungkin merupakan “peran” serangga yang populer. walang sangit bagi tanaman padi, kumbang artona untuk pohon kelapa, adalah bagian dari hama. Terkait hama ini, terdapat cara-cara tradisional dan modern untuk mengatasinya. Di pameran Omah Serangga juga ditampilkan hama serangga misalnya yang menyerang bahan makanan yang tersimpan di gudang.

Beberapa jenis serangga juga menjadi vektor untuk penyakit. Manusia kemudian mengembangkan berbagai hal untuk menanggulangi hal tersebut, mulai dari kelambu hingga obat pil kina yang terkenal. Ribut-ribut beberapa waktu yang lalu tentang wolbachia, menandai upaya pemberantasan penyakit demam berdarah dengue atas vektor serangga terbang ini.

Sebagai pengganggu, terdapat kutu rambut … Kita kemudian membuat berbagai alat penyisir, mengembangkan tradisi petan, membuat sampo pembasmi kutu… Terdapat juga samber mata yang jika kita berkendara motor di petang hari mungkin mata kita akan kemasukan serangga ini. Sedikit mengganggu perjalanan, yang jika kita tidak berhati-hati maka akan mendatangkan bahaya.

Dari sisi imajinasi, topik serangga tak henti dieksplorasi untuk karya-karya fiksi, seperti film Bug’s Life dan Antz. Beberapa film menggambarkan serangga menjadi musuh sebagai mutant atau aliens. Sejalan dengan imajinasi, kita juga membayangkan mobil vw kodok sebagai vw beetle.

Sejalan dengan imajinasi, karya kriya dan seni juga menarik untuk ditampilkan. Banyak batik bertema serangga, khususnya kupu-kupu. Tahun 90-an awal seingat saya, ada pameran “Batik Plastik” dari Tulus Warsito di Bentara Budaya saat masih di lokasi yang sekarang digunakan untuk gedung Gramedia Yogyakarta, yang antara lain menampilkan kupu-kupu dari batik yang dilaminating.

Kupu-kupu sebagai motif batik.

Topik tentang serangga tidak hanya masalah akademik seperti taksonomi, atau keseharian seperti peran serangga, atau gambaran fiksionalnya, namun dapat pula hingga yang bersifat agitatif atau provokatif, misalnya menganjurkan untuk tidak menggunakan insektisida untuk membasmi hama. Tentu ada pro dan kontra juga yang harus disampaikan.

***

Penyampaian pengetahuan akan serangga dapat menjadi daya tarik suatu science center seperti Omah Serangga karena rasanya kita setiap hari terpapar dengan serangga–seperti digigit nyamuk–tetapi pengetahuan publik umumnya terbatas. Namun sebenarnya mereka juga memiliki pengalaman, pengetahuan, dan imaji tersendiri mengenai serangga yang dapat dikelola dalam dokumentasi, pengembangan pengetahuan, dan edukasi kepada publik. [z].

Baca juga: