Puncak perayaan Dies Natalis ke-80 FIB UGM telah berlalu. Pihak fakultas meminta foto dokumentasi dari pameran yang saya koordinir, tentang sejarah dan capaian FIB UGM, jadi saya memeriksa dan memilih foto yang kira-kira sesuai sebagai bahan laporan. Di antara pameran tersebut terdapat koleksi wayang krucil yang dikembangkan dari ilustrasi pada suatu naskah lama terbitan Balai Pustaka. Wayang yang dipamerkan ini merupakan koleksi salah satu pengajar di FIB.
Selagi memperhatikan foto-foto tersebut, terpikir mengapa nama salah satu tokoh di masa Majapahit itu Menak Jingga. Pikiran ini muncul karena saya baru saja mendapati bahwa nama salah satu mahasiswa saya adalah Kencana Wungu.
Tentu, para pemerhati budaya Jawa sudah akrab dengan hubungan antara Menak Jingga dan Kencana Wungu, yang kemudian ada Damarwulan di tengah-tengahnya. Folklor ini cukup populer, bercerita situasi masa akhir Majapahit.
Kencana Wungu dikenal sebagai seorang ratu–perempuan–dari kerajaan yang beribukota di Jawa Timur tersebut. Nama ini, seingat saya, salah satu maknanya adalah “tidak mungkin”. Kencana atau emas tentu tidak mungkin berwarna wungu atau ungu. Boleh jadi, karena sifatnya yang luar biasa, atau bahwa tokoh ini memang fiktif. Namun, beberapa rujukan mengartikan kata ini, seperti yang populer sekarang, yaitu kelembutan.
Nah, Menak Jingga, adalah nama tokoh dari Blambangan yang berada di ujung timur dari wilayah Jawa Timur. Nama ini mengandung kata “menak”, suatu jabatan lokal, dan “jingga” yang pada beberapa tafsiran kemungkinan menunjuk kepada warna kuning kemerahan. Maknanya, mungkin tentang keberanian. Tokoh lain yang mengandung kata “jingga” dalam folklor antara lain adalah Astrajingga, yaitu tokoh dalam cerita wayang di Jawa Barat, yang kurang lebih sama dengan Bagong di wayang purwa model Jawa.
Maka, dengan asumsi bahwa keduanya adalah jenis warna, adalah menarik jika kedua hal tersebut dihubungkan, yaitu antara jingga vs wungu, atau wungu vs jingga. Boleh jadi hal ini hanya kebetulan, atau koinsidens, atau memang sengaja secara kultural: bahwa kedua warna tersebut berada pada sisi yang diametral dalam budaya Jawa. Dalam notasi oposisi biner, kurang lebih dapat ditulis sebagai berikut.
jingga : wungu :: berani : lembut :: laki-laki : perempuan
Dalam teori strukturalisme yang dikembangkan oleh Claude Lévi-Strauss, konsep oposisi biner (pasangan dua hal yang saling bertentangan) adalah alat yang digunakan otak manusia untuk memahami dunia dan kemudian menata budaya. Dunia di sekitar manusia sangat rumit dan penuh dengan nuansa yang gradatif. Oleh karena itu, manusia mengelompokkan realitas ke dalam kategori-kategori kontras (biner) agar lebih mudah diproses dan dipahami. Aturan-aturan sosial kemudian diciptakan berdasarkan pembagian dualistik tersebut.
Pembagian ini juga terdapat dalam folklor. Agar pesan moral mudah dipahami, cerita rakyat umumnya mempertentangkan dua kubu, biasanya antara baik dan buruk, seperti Bawang Merah dan Bawang Putih. Tanpa adanya kontras biner ini, norma yang diajarkan akan menjadi tidak jelas dan sulit diikuti.[z]