Kremunnya Karimunjawa

Karimunjawa adalah pulau di Laut Jawa, termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pulau ini cukup lama menjadi destinasi wisata, dan cukup berkembang akhir-akhir ini.

Folklor menyatakan bahwa nama ini muncul karena pulau terlihat secara tidak jelas dari Pulau Jawa, alias kremun-kremun seka Jawa. Namun, mestinya jika terlihat dari Jawa, Pulau Jawa juga akan terlihat, juga kremun-kremun. Setidaknya puncak Gunung Muria akan terlihat jika kita memandang ke arah selatan. Namun saya belum menemukannya terlihat dari pulau yang terpisah 88 km ini.

Boleh jadi, yang kremun-kremun itu bukan visualnya, melainkan beritanya, bahwa terdapat pulau di utara ini. Rasanya dalam sejarah, pulau seluas 45 km persegi ini tidak sejelas Bawean yang sama-sama di Laut Jawa, yang lebih berjarak lagi. Pulau Bawean berjeda 120 km. Namun Bawean yang seluas hampir 200 km persegi telah menjadi tempat persinggahan perdagangan di masa lalu.

Bahwa pulau ini adalah “antahberantah” mungkin juga terlihat dari mitos adanya beberapa tumbuhan yang dianggap “bertuah” seperti setigi (Phempis acidula), kalimasada (Cordia subcordata), dan dewadaru atau dewandaru (Eugenia uniflora). Yang terakhir ini kemudian menjadi nama bandara, yaitu Bandara Dewadaru (KWB) di Karimunjawa. Konon, kayu pohon ini bertuah dan tidak bisa dibawa menyeberang ke Jawa, yang membayangkan isolasi atas pulau kecil ini.

Saat ini Karimunjawa tidak lagi kremun-kremun. Berbagai sarana wisata dikembangkan, termasuk penerbangan melalui Bandara Dewadaru yang dibangun tahun 2018. Tahun ini terdapat penerbangan terjadwal dari Yogyakarta yang mempermudah akses, yang konon berongkos 1,3 juta sekali jalan selama 55 menit. Untuk angkutan laut, tersedia kapal cepat dan kapal penumpang yang menunggu di Pelabuhan Kartini, Jepara. Kapal cepat akan menempuh waktu setidaknya dua jam, dan kapal penumpang (feri/ro-ro) akan memerlukan waktu empat hingga lima jam, dengan ongkos konon antara 100 hingga 300 ribu rupiah. [z]