“Menjadi wanita janganlah berjiwa kerdil, berjiwalah Srikandi.”
Siti Walidah, sebagaimana dikutip dalam film dokumenter “Nyai Walidah”
Sore kemarin, saya diundang teman saya Widyastuti, untuk menghadiri nobar, private screening, film dokumenter Nyai Walidah di CGV Transmart Maguwo. Widyastuti, yang populer disebut Budhe Wiwied di kalangan koleganya adalah ketua Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) ‘Aisyiyah yang memproduksi film tersebut. Sementara, sutradara yang membesut adalah Yusron Fuadi, dosen Sekolah Vokasi UGM yang dahulu juga menyutradarai film Tengkorak tahun 2018.
Film ini bersifat dokumenter bukan biopic yang merupakan fiksi meski berbau sejarah seorang tokoh. Film biopic atau biographical picture antara lain adalah Sang Pencerah, yang bercerita tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, suami dari Nyai Walidah, yang digarap oleh Sutradara Hanung Bramantyo. Atau, dahulu juga pernah dibuat film Nyai Ahmad Dahlan, bercerita tentang tokoh yang sama, yaitu Nyai Walidah. Film tersebut juga hasil kerja Budhe Wiwied, bersama teman saya yang lain, Dyah Kalsitorini.

Kebetulan, saya nonton film dokumenter ini berjejer dengan sebagian perisetnya, yaitu Mas Ichsan dan Mas Ahmad. Beberapa obrolan kecil terjadi di sambil mata tetap menatap layar sehingga saya dapat menangkap beberapa konteks dari sajian film ini.
Nyai Walidah, atau Siti Walidah, adalah istri dari Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Nyai Walidah sendiri adalah pendiri ‘Aisyiah. Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun 1971.
Film sepanjang satu jam ini menyajikan riwayat aktivitas Nyai Walidah terutama dalam berdakwah dan mendampingi suaminya. Meski di sana-sini terdapat gambar dokumen seperti koran lama, namun film ini cenderung menggunakan kesaksian dari orang-orang di sekitar Nyai Walidah baik yang pernah bertemu langsung maupun keturunan dari mereka. Mereka dihadirkan sebagai sosok yang menceritakan Nyai Walidah sebagai kesaksian mereka. Sebagian sosok yang dihadirkan juga mengomentari sesuai dengan kapasitas keilmuan atau posisi sosial mereka, seperti sejarawan Mbak Mutiah Amini, juga Budhe Wiwied sendiri yang memberikan narasi sambil berjaket tebal, berjalan di alam pegunungan yang dingin di Batur, Banjarnegara.
Selain kesaksian dan gambar dokumen, film ini juga menampilkan tinggalan budaya terutama bangunan dan tempat-tempat yang dulu pernah menjadi saksi sebagian kegiatan Nyai Walidah. Tempat-tempat tersebut berada di seputar Yogyakarta, Banjarnegara (Batur), dan Pasuruan (Bangil).
***
Dokumen di masa lalu terutama terkait dengan Siti Walidah tidak mudah dicari. Namun, kata Mas Ichsan, dalam proses kajian kemudian muncul berbagai dokumen yang sebelumnya tidak diketahui. Yak, tentu itulah salah satu fungsi riset, yaitu menjadikan dokumen muncul atau terkumpul. Tentu perlu penanganan lebih lanjut agar dokumen-dokumen ini tetap selamat dan dapat terakses.
***
Dari nonton film ini, saya bayangkan adanya tiga level dokumen. Level pertama adalah dokumen yang terkait langsung, seperti akta kelahiran, karya tulis, atau foto. Jika benda dapat dimasukkan ke dalam dokumen, maka bangunan dan berbagai artefak, juga lingkungan, yang terkait dengan kegiatan tokoh di masa lalu.1 Level kedua adalah laporan seperti berita di koran, serta kesaksian orang-orang di sekitarnya. Level ketiga adalah produk naratif dari level kedua, seperti film dokumenter Nyai Walidah yang menggunakan kesaksian dan sumber dokumentasi ini, baik dari level pertama maupun kedua.
Level keempat mestinya dapat ditambahkan, yaitu dokumentasi pembuatan film dokumenter. Maka saya menyarankan ke Mas Ichsan, kebetulan merupakan kolega di Tim Heritage Muhammadiyah, untuk menjaga dokumen dan memorabilia pembuatan film ini.
***

Dokumen level kelima, jika boleh ditambahkan, adalah catatan, kesaksian, dan memorabilia saya ketika nonton film itu. Akan tetapi, apa bentuknya ya… mungkin tulisan ini dapat dianggap dokumen level kelima, juga undangan yang dikirim lewat whatsapp dua hari yang lalu, atau kardus nyamikan a.k.a. snack yang dibagikan seusai nobar kemarin? [z]
Catatan Kaki
- Mengambil analogi museum, konon menurut ilmu dokumentasi, “museum adalah lembaga dokumenter utama yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan, merawat, mengolah, dan menyajikan koleksi sebagai dokumen materiil warisan budaya dan ilmu pengetahuan demi kepentingan masyarakat.” ↩︎
Saya yakin artefaknya termasuk makanan adalah hasil dari riset yang serius. Bagian visual ini memang tidak bisa diabaikan telah mengisi sisi non-verbal dari film dokumenter ini. Terima kasih, Mas Ris, tambahannya menjadi pelengkap tulisan ini.
Mas, terimakasih komentar dan testimoninya setelah kersa menghadiri undangan kami. Tetapi ada yang kelewat dari amatan, dan wajar karena proses ini memang banyak didominasi sisi historis. Apa itu yaitu peran artefak/heritage baik tangible maupun intangible yang dalam karya ini berusaha kami selalu hadirkan untuk menjaga validitas dan otentikasi narasi dan visualisasinya. Dari bangunan, pakaian, lokasi, adegan, makanan itu sebagai bentuk sisi heritagenya. Termasuk kutipan di awal yang jenengan kutip, termasuk heritage intangible dari Siti Walidah… Nuwun…..