Tetiba tumbler menarik perhatian. Di media sosial, whatsapp group, maupun perbincangan langsung terdapat topik-topik tentang benda ini. Di Fakultas Ilmu Budaya dilakukan deklarasi “Go Tumbler No Plastic” hari Jumat kemarin, meski sebenarnya penggunaan tumbler sudah dikampanyekan di FIB sejak beberapa tahun yang lalu, kurang lebih bareng dengan lingkungan UGM lainnya.
Kurang lebih bersamaan dengan deklarasi tersebut terdapat berita viral terkait dengan tumbler juga. Terdapat suatu peristiwa di Jakarta yang mendapat perhatian publik, terutama di media sosial, yang akhirnya konon sampai ada pegawai kereta KAI menyelipkan pesan untuk berhati-hati membawa tumbler dalam pengumuman kepada penumpang kereta. Video hal ini berseliweran di media sosial.
Peristiwa viral tersebut yang membuat saya menyadari (lagi) fenomena tempat minum cemangking yang sering disebut tumbler ini. Beberapa tahun terakhir banyak orang yang nyangking tempat minum jika bepergian. Dahulu saya lebih melihat sebagai gaya hidup “sehat”, yang orang terlihat lebih banyak minum air. Sebagian juga tentang gaya, karena tiba-tiba rasanya mereka berlebihan: tempat minum, khususnya yang berbentuk botol, menjadi berukuran sangat besar. Sepertinya persediaan air tersebut dapat digunakan untuk minum dua hari tanpa pulang ke rumah, tanpa mampir warung.
Selain karena gaya hidup sehat seperti di atas (agar dapat minum air putih setiap saat atau jumlah tertentu), penggunaan tumbler cemangking ini antara lain adalah untuk persiapan kedaruratan (agar tidak haus), agar ramah lingkungan (tidak membeli air minum dalam kemasan sekali pakai, juga karena aspek komunikasi simbolik.
Kasus tumbler yang viral baru-baru ini membuat saya menjelajah Internet untuk mencari tahu harga tempat minum dan ternyata dapat berharga mahal. Harga ini tidak menghalangi orang-orang untuk membelinya. Alasan rasional yang dikemukakan biasanya adalah bahwa yang mahal ini lebih awet panas atau dinginnya. Atau bahwa segel tutupnya kuat sehingga air isinya tidak mudah tumpah.

Nah banyak di antara tempat minum mahal ini yang memang mencolok mata. Bentuk yang cukup besar dan unik, warna yang menarik mata meski soft serta merek yang diterakan pada bagian badan, membuat tumbler menjadi fenomena visual. Banyak yang karena ukurannya cukup besar dan tidak muat dalam kantong tas sehingga dibawa dengan cara ditenteng sehingga akan terlihat. Maka komunikasi simbolik kemudian tercipta.
***
Konon, tumbler adalah wadah minum yang dapat berdiri tegak dan tidak memiliki gagang. Gelas “biasa” yang kita kenal selama ini adalah tumbler. Benda ini berdinding lurus sehingga dapat tegak berdiri. Tipe lain akan kita beri sebutan lanjut, seperti “gelas bergagang” yang biasa kita gunakan untuk minum es teh di warung bakso.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia VI Daring, tum.bler /tumblêr/adalah:
- n gelas, tidak bergagang, terbuat dari kaca, plastik, dan sebagainya
- n wadah air minum berbentuk seperti gelas tanpa gagang, memiliki tutup, terbuat dari kaca atau plastik, dapat menjaga suhu minuman tetap seperti semula, mudah dibawa ke mana saja
Ingat juga hadiah tumbler dari suatu pembelian, umumnya berupa “gelas” plastik tanpa gagang dan memiliki tutup. Pada definisi ini sebenarnya gelas plastik sekali pakai yang kita dapat waktu membeli es teh jumbo itu juga termasuk tumbler, meski kita lebih sering menyebutnya dengan istilah “cup”.1
Namun, tumbler sekarang cenderung seperti definisi kedua di KBBI tersebut, sebagai wadah minum yang dapat dibawa pergi, dengan tutup yang sering berlubang kecil untuk keluarnya air saat diminum, dan umumnya memiliki penyekat panas. Benda ini dapat digunakan berulang. Maka sering tumbler berwujud gelas (dinding lurus atau melebar di bagian atas) dan botol (dengan leher menyempit di bagian atas, sering dengan tutup berulir).

Tipe lainnya adalah termos. Wadah ini sekarang juga berbentuk ringkas, mudah dibawa. Berbeda dari tumbler yang cenderung melebar di bagian atas, dan botol yang menyempit, termos ini sering berbentuk tabung lurus. Secara awam benda ini juga disebut tumbler.
Beberapa tahun terakhir peredaran tempat minum dari ketiga bentuk di atas sangat banyak. Benda ini didapat dari suvenir, promosi, atau membeli sendiri karena harganya juga relatif murah. Tempat minum bersekat panas dengan tutup rapat bisa hanya seharga belasan ribu rupiah, sementara tumbler dan botol minum yang umumnya dari plastik dapat jauh lebih murah lagi.
Dahulu, untuk membawa minuman dalam aktivitas di luar rumah dipakailah botol bekas orson atau sirup, hingga kemudian marak botol plastik di zaman tupperware. Teman sekolah saya semasa kecil membawa minuman menggunakan botol kaca bening berwarna merah dengan gambar tengkorak. Ia mengambil botol bekas tempat racun pertanian milik keluarganya sebagai tempat minum.
***
Saya mah cukup tumbler dari “hadiah” produk, isi goodie bag, atau cendera mata. Jika nanti air kopi menjadi dingin, ya tidaklah mengapa, toh akan segera sampai rumah atau kantor. Memang, benda milik saya ini kurang bergaya dan sering mengandung tulisan atau gambar yang mencerminkan pemberinya. Salah satu tumbler yang saya miliki bertuliskan nama dua orang, pasangan suami istri. Tentu karena benda tersebut adalah suvenir manten. [z]
Catatan kaki
- Mengapa bu guru bahasa Inggris dahulu mengajari bahwa cup adalah cangkir? ↩︎