Grombyangan di Pemalang

Salah satu kuliner khas di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, adalah nasi grombyang. Saya mengenal makanan ini berkat rekomendasi penjaga hotel saat hendak mencari sarapan. Ia menyatakan nasi grombyang adalah makanan khas yang dapat dicari pagi itu.

Akhirnya kami serombongan dari Yogyakarta mengudap kuliner ini, di sebuah warung di tengah kota di Pantura ini. Ada puluhan meja-kursi di tempat ini menandakan bahwa kuliner ini, atau warung ini, sangat populer. Bersama dengan rombongan kami juga terdapat satu mobil orang luar kota yang harus bertanya ke penjualnya: seperti apa nasi grombyang itu.

Kesan pertama saya, makanan ini mirip dengan rawon, karena terdapat keratan daging yang berendam di kuah gelap. Namun, kategori soto sempat terpikir pula, mengingat makanan ini disajikan dengan mangkuk kecil, seperti umumnya soto di pantai utara, setidaknya soto semarang dan soto kudus. Kuah mendominasi hingga hampir mencapai bibir mangkuk–konon oleh karena itu disebut “grombyang”–membuat tidak salah rasanya mengasosiasikan kuliner ini dengan soto.

Rasa makanan ini, kata adik sepupu saya yang ikut dalam rombongan kami pagi itu, mirip dengan pindang. Ya, mirip, hanya ini lebih ada kandungan kesatnya, seperti parutan sesuatu. Googling sebentar memang ada kandungan kelapa parut yang disangrai. Rasa gurih dan manis mendominasi nasi grombyang.

Sate pelengkap nasi grombyang, daging dan jeroan yang ditusuk lidi.

Sebagai pelengkap terdapat sate dengan rasa yang mirip dengan hidangan utama. Sate ini juga terbuat daging, juga terdapat jeroan, dan sepertinya ada kulit juga. Sate rebus ini dihidangkan di atas piring dengan kuah kental menyelimuti.

***

Sebagai kuliner khas, tentu nasi grombyang dapat dengan mudah ditemui di Pemalang. Beberapa warung besar memang terkenal, tetapi juga terdapat berbagai warung tenda di berbagai tempat di kota ini.

Selain itu, bumbu masakan khas ini dijual pula dalam bentuk bungkus pasta, dan pagi itu saya temui bumbu ini dijual dalam bungkus plastik di sebuah toko oleh-oleh. Langkah ini bagus untuk mengenalkan kuliner ini, karena kadang ada wisatawan yang ini membuat makanan ini di rumah namun kesulitan dengan bumbu.

Langkah yang strategis lainnya adalah mendaftarkannya sebagai Warisan Takbenda Indonesia. Di tahun 2021, kuliner ini telah didaftar sebagai WBtB. Sega Grombyang masuk ke dalam daftar tersebut dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional, Provinsi Jawa Tengah. Warisan Budaya ini didaftar dengan nomor AA001278.

***

Kuliner lain yang berupa nasi dalam daftar Warisan Budaya Takbenda tersebut antara lain adalah sega jamblang (domain seni pertunjukan dari Jawa Barat), sego krawu (domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional dari Jawa Timur), dan sego pari gogo (domain Tradisi dan Ekspresi Lisan dari DIY). Dengan kata kunci “nasi”, terdapat tujuh unsur budaya lain dalam daftar WBtB, antara lain adalah nasi sekone (nasi besar), domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan dari Provinsi Kepulauan Riau.

Sayang sekali website Budaya Kita dari Kemendikdasmen saat saya tengok tidak menyajikan data tentang makanan yang berada pada domain-domain berbeda itu. Saya duga perbedaan itu terjadi karena bentuk unsur budaya tersebut memang berbeda, kadang bukan sebagai kuliner, makanan yang kami cari untuk sarapan seperti nasi grombyang dari Pemalang itu, melainkan bagian dari upacara.