Daya dari dalam Lemari Kaca

Objek museum banyak yang diletakkan dalam lemari kaca (vitrin) saat dipamerkan. Alasan utama dari penggunaan vitrin adalah masalah konservasi, agar benda tidak rusak, atau bahkan hilang.

Namun, penempatan objek di dalam vitrin dapat mendudukkan objek sebagai benda mati tanpa arti. Dalam kata-kata yang lebih canggih, upaya ini dapat mereduksi kompleksitas makna objek karena menjadi terlihat statis, diam sepanjang riwayatnya kemudian. Objek tersebut sering hanya disertai dengan deskripsi informatif tentang objek itu sendiri. “Keris, Abad ke-19”.

Hal ini akan menghilangkan aspek relasional, yaitu bahwa terdapat hubungan-hubungan sosial yang melekat pada objek yang terlihat diam tersebut. Penempatan dalam vitrin seakan juga membatasi peran objek dalam budaya sekarang: ia dibekukan pada satu titik di masa lalu.

Kondisi ini sering membuat publik sering menyatakan bahwa museum hanya menyimpan benda mati, berderet di vitrin. Atau museum mematikan benda dengan menyimpannya di rak-rak karena tidak lagi berperan dalam kehidupan budaya. Kursi yang dipamerkan, misalnya, tidak lagi digunakan untuk duduk sehingga objek tersebut memang tidak lagi fungsional.

***

Objek museum memang telah didekontekstualisasi, dilepas dari berbagai konteks yang dahulu sempat menyelimuti.

Dalam arkeologi, suatu objek yang ditemukan dalam ekskavasi telah keluar dari konteks sistem (dahulu saat masih diproduksi, digunakan, dan saat dibuang), dan masuk ke konteks lain yaitu konteks arkeologi, saat berada di tangan para arkeolog sebagai “pengguna” baru.

Mirip dengan hal tersebut, di museum objek telah keluar dari sistem semula dan masuk ke tatanan berikut yang lebih bersifat simbolik yang memberi objek fungsi baru.

Krzysztof Pomian, seorang sejarawan sekaligus filsuf dari Polandia, menyebut objek di museum kemudian menjadi semiophore, atau pembawa makna. Dengan mengutip hal tersebut, buku Key Concepts of Museology terbitan ICOM menggunakan istilah carrier of meaning, pembawa makna. Sementara itu, pada aras yang kurang lebih mirip, guru saya dahulu, Peter van Mensch, menyebutnya data carrier.

***

Dalam posisi sebagai pembawa makna, dari dalam vitrin, sebenarnya objek masih memiliki kekuatan untuk mempengaruhi kehidupan masa sekarang. Objek museum dipahami memiliki kapasitas semantik (yaitu kemampuan untuk membawa, menyimpan, memicu, dan menghasilkan makna). Awalnya, objek memiliki makna yang muncul dari riwayat dalam produksi, fungsi awal, serta biografinya (perjalanan sosialnya). Pada tahap ini telah terdapat berbagai makna suatu objek, baik alat, simbol status, atau identitas budaya.

Kemudian, di ruang pamer, makna-makna dinegosiasikan dalam “praktik museum” (museal practice). Terdapat label, narasi kuratorial, tata pamer, vitrin, pencahayaan, hingga pilihan bahasa yang kemudian akan membingkai cara pengunjung memahami objek. Dalam hal ini, museum tidak netral, melainkan aktor aktif dalam produksi makna.

Dengan demikian, objek adalah pembawa makna, carrier of meaning, yang tetap hidup secara kultural meski secara material tidak bergerak atau hanya diam di dalam vitrin di ruang-ruang pamer museum.

Sebagai pembawa makna, objek dapat mempengaruhi cara pengunjung memahami sejarah, identitas, dan nilai-nilai budaya. Objek juga dapat dapat membangkitkan emosi, ingatan kolektif, atau bahkan kontroversi. Sementara itu, narasi yang dilekatkan pada objek akan membentuk wacana baik sosial maupun politik.

Akan tetapi, memang banyak objek yang masih dibiarkan mati di ruang pamer museum. Objek hanya menjadi bukti keberadaan objek itu sendiri. Kurator dan penata pameran ditunggu untuk menghidupkannya, memasukkannya lagi ke dalam konteks budaya.

Maka objek di museum, di dalam vitrin, akan tetap memiliki daya untuk berinteraksi, bahkan mempengaruhi kehidupan kita sekarang. [z]

Lihat juga: