Ngapain Saja di Jogja, Tujuh Juta Wisatawan?

Terkabar di media daring bahwa akhir tahun ini Yogyakarta akan dikunjungi tujuh juta orang.1 Ya, tujuh juta. Jumlah ini nyaris dua kali lipat penduduk DIY berdasar perhitungan tahun kemarin.

Keberadaan mereka memang terasa dengan peningkatan arus lalu lintas, macet di beberapa titik, tempat wisata yang ramai, dan tentu pelat nomor kendaraan yang menjadi sangat beragam. Kepo kami sebagai orang lokal, ngapain saja mereka di Jogja?

Sepuluh tahun yang lalu saya pernah menulis hal yang sama, yaitu hal-hal yang menjadi daya tarik wisata di Yogyakarta. Setelah berlalu satu dasa warsa, terdapat perkembangan seperti pertambahan objek, pergeseran oleh-oleh, dan hal-hal yang dapat dilakukan oleh pengunjung. Saya akan menulis lagi dengan tetap menggunakan rumus wisata: what to see, what to do, what to buy . Tentu tulisan ini tidak hanya ditujukan untuk tujuh juta orang yang hari-hari ini secara temporer berada di DIY tersebut.

What to see

Tempat-tempat wisata “mainstream” tentu tetap dapat menarik perhatian. Malioboro, Kraton, candi-candi, Kaliurang, dan pantai-pantai rasanya tetap berharga untuk dikunjungi.

Di luar itu, cukup banyak tempat yang dapat dikunjungi, beberapa di antaranya baru dikembangkan, seperti beberapa lokasi di luar kota, terutama di Gunungkidul dan Sleman. Objek ini umumnya adalah wisata buatan yang sebagian juga mengandalkan panorama.

Di Kota, beberapa museum membenahi diri sehingga dapat menjadi atraksi yang menarik, setidaknya terdapat Museum Benteng Vredeburg serta Museum Sonobudoyo yang berpenampilan segar. Selain itu museum-museum baru juga bermunculan, seperti Museum Muhammadiyah di kompleks UAD di tepi Ring Road Selatan. Museum Mainan Kolong Tangga buka lagi di Bantul, setelah sempat tutup sewaktu berada di Taman Budaya Yogyakarta. Di DIY terdapat tidak kurang dari enam puluh museum dengan beragam jenis, kondisi, serta status legalnya.

Objek-objek utama tadi di antaranya adalah sebagai berikut.

Kraton (dan Tamansari) tentu menjadi salah satu daya tarik utama. Beberapa museum di Kraton juga berbenah sehingga terasa lebih cocok dengan selera digital seperti sekarang. Namun, wisatawan harus berhati-hati karena beberapa minggu yang lalu terkabar keras tentang scamming yang menimpa calon wisatawan yang hendak berkunjung ke kraton.

Malioboro telah bebas dari pedagang kaki lima di trotoar, yang sekarang pindah ke dua lokasi yang disebut Teras Malioboro. Jalan utama di Yogyakarta ini telah ditata dengan lebih estetik, dengan keteduhan pohon asam jawa yang penuh makna filosofi. Ujung selatan Malioboro, yang kini bernama Jalan Margamulya itu, menjadi salah satu spot wajib bagi wisatawan. Di sekitar tempat ini banyak bangunan lama dari masa Kolonial yang dapat dinikmati.

Candi peninggalan dari masa Hindu-Buddha berjumlah sangat banyak, terutama di Kabupaten Sleman. Sebagian candi menjadi daya tarik bagi wisatawan, seperti Prambanan, Ratu Boko, dan Kalasan.

Pantai-pantai terutama di wilayah Bantul dan Gunungkidul semakin banyak yang dikembangkan sebagai daya tarik. Namun, perlu berhati-hati dalam perjalanan karena umumnya pantai ini terletak di balik pebukitan kapur yang jalannya sempit, berkelok, dan turun atau naik.

What to do

Tempat wisata pedesaan masih dikembangkan, misalnya di beberapa tempat di Kulonprogo. Wisatawan dapat bersepeda berkeliling pedesaan, terutama di lingkungan sawah. Wisata berkeliling semacam ini juga dapat dilakukan dengan kendaraan terbuka seperti yang diselenggarakan di lereng Merapi dan di pantai di Gunungkidul. Wisata pedesaan biasanya terkait dengan warung atau rumah makan yang juga bergaya lokal.

Berfoto-foto semakin digemari. Jika dahulu lebih banyak foto dengan objek wisata yang memang diciptakan dadakan untuk itu, sekarang banyak yang diselenggarakan di sepanjang Malioboro, bahkan juga di Museum Sonobudoyo. Umumnya tempat-tempat ini menyewakan pakaian tradisional, kemudian memotretnya di tempat-tempat tertentu di sekitar Malioboro, bahkan di kompleks museum.

Malioboro menjadi bagian dari sumbu filosofi Kota Yogyakarta. Tinggalan budaya yang didaftar oleh Unesco ini dapat dinikmati sendiri, mengarungi kota dengan kendaraan (atau jalan kaki jika mau) dari Tugu di utara melalui Malioboro, kraton, serta berakhir di Panggung Krapyak di selatan. Untuk menikmati sumbu filosofi ini Dinas Kebudayaan DIY juga menyediakan kendaraan khusus yang dapat digunakan oleh wisatawan lengkap dengan pemandu.

Mau nongkrong saja? Konon ada 3500 kafe di Yogyakarta. Jumlah ini rasanya terus bertambah karena selalu melihat ada kafe baru di tempat yang dahulu kosong. Nongkrong yang lebih “tradisional” tentunya juga ada, yang dikenal dengan nama angkringan. Terutama di malam hari, angkringan tersebar di berbagai sudut kampung di Yogyakarta.

What to buy

Sentra gudeg dikerumuni wisatawan, seperti di Sagan, di Selokan, serta di Wijilan. Beberapa warung makan menjadi sangat ramai, mungkin karena pernah viral. Antrean bisa mengular sangat panjang di tempat-tempat semacam ini.

Oleh-oleh semakin terfokus pada makanan bakpia dengan berbagai merek baru, tidak hanya merek dengan angka yang dahulu berasal dari Pathuk. Kemasan juga semakin beragam, menyesuaikan dengan gaya kekinian dan tentu kebutuhan wisatawan.

Sepanjang Jalan Malioboro nyaris dipenuhi penjual bakpia meski batik juga masih mendominasi.

Beberapa makanan baru dicoba dikembangkan dengan menyematkan nama “Jogja” agar menarik wisatawan. Roti sisir bakeri terkenal di tengah kota adalah satu di antara oleh-oleh makanan itu.

Selain gudeg yang telah menjadi julukan kota Yogyakarta,2 mi jawa menjadi pilihan terutama di malam hari. Banyak tempat yang menyajikan makanan berkuah ini di seluruh wilayah, bahkan di tengah kota kita rasanya tidak dapat menghindarkan pandangan dari keberadaan penjual mi ke manapun kita menoleh.

Ayam goreng ala amerika dengan nama seperti pacar Popeye itu pun rupanya menjadi kuliner khas Yogya, setidaknya demikian kata media sosial. Di berbagai sudut kota terdapat warung makan ayam goreng ini, yang sekarang juga ada gepreknya, bukan hanya sambal saos sebagai perasa seperti sebelumnya.

Pasar Ngasem menjadi salah satu tujuan berbelanja. Setiap libur, jalan di sekitar pasar ini pasti macet setidaknya di pagi hingga menjelang siang hari. Wisatawan banyak berkunjung untuk mengudap makanan tradisional yang tiba-tiba menjadi populer, yang dulu hanya untuk makanan keseharian kami, warga yang tinggal di sekitar pasar ini.

Toko buku mungkin menjadi salah satu pilihan untuk berwisata belanja. Beberapa tahun terakhir muncul toko buku yang estetik di beberapa tempat, terutama di kawasan Sleman. Selain membeli buku, berfoto estetik juga dapat dilakukan di toko buku model baru ini. [z]

Baca juga:

Catatan Kaki

  1. https://travel.kompas.com/read/2025/12/24/070133527/libur-akhir-tahun-7-juta-wisatawan-diprediksi-berlibur-ke-yogyakarta ↩︎
  2. Tentu gudeg tidak hanya di Yogyakarta kota. Sentra gudeg juga terdapat di Sleman, tepat di utara kampus UGM. ↩︎

Tinggalkan komentar