\
Apa yang menjadi orientasi jika kita berada di suatu kota? Biasanya kita mengingat dan menggunakan fitur-fitur menonjol seperti bangunan, bukit, sungai, atau monumen, bahkan pohon. Misalnya, Tugu Jogja. Kita bisa membayangkan jejaring jalan atau posisi relatif kita di kota Yogyakarta dengan menghubungkan pada Tugu Jogja. Dahulu terdapat perangkat reklame berbentuk botol besar, di dekat IKIP Negeri Yogyakarta (UNY sekarang), yang kemudian membuat tempat tersebut dikenal dengan “Coca-Cola”. Jika akan turun dari kendaraan umum, sebutan yang digunakan adalah “kokakola”.
Di Jakarta, mungkin monumen-monumen yang menjadi penanda lahan. Monas, misalnya. Konon dahulu dapat dilihat dari jarak tujuh kilometer, namun sekarang tugu ini tidak mudah dilihat tertutup bangunan-bangunan tinggi. Juga Tugu Selamat Datang, Tugu Tani, Tugu Pemuda, Tugu Pancoran, dan berbagai monumen lain.
Maka banyak penanda lahan yang sekarang menjadi lokal, tidak seperti dahulu saat garis langit belum dipenuhi oleh komponen fisik kota. Patung Tani, misalnya, yang lebih kecil dan kemudian menjadi penanda bagi kawasan yang terbatas. “Malam Tahun Baru 2025, Arus Lalin di Kawasan Tugu Tani Menuju Gambir Macet”, tulis salah satu koran daring. Monumen ini konon setinggi 11 meter. Terdapat ruang terbuka di sekitarnya yang memungkinkan kita memandang ke arah patung ini sebagai area yang relatif kecil. Maka Tugu Tani menjadi representasi kawasan yang terbatas jika dibandingkan dengan monas atau tugu selamat datang. “Monumentalitas” tugu ini terbatas, hanya untuk sekitar tempat tugu tersebut.
Penanda lahan ini dapat menjadi representasi kota, yang kemudian bentuk-bentuk visualnya dapat kita gunakan untuk menggambarkan suatu kota, seperti tadi, Tugu Putih menjadi wakil dari kota Yogyakarta, tidak hanya menandai kawasan di perempatan jalan di sebelah timur Pasar Kranggan tersebut.
***
Penanda lahan dapat bersifat privat. Seseorang mungkin terkesan pada suatu bangunan atau unsur kawasan lain karena sesuatu hal. Mungkin unik baginya berdasar pengalaman yang telah ia dapati.
Dalam konteks ini, untuk kota Jakarta, saya memilih Gedung Bank BNI atau yang juga dikenal sebagai Wisma 46. Bentuk gedung yang bagi saya seperti ulat ini, eh sebenarnya konon itu dirupakan sebagai perahu layar, zaman BNI 46 menggunakan logo perahu dulu, sangat khas dengan warna biru-putih dan menara rangka itu. Bangunan ini masih mudah dilihat dan dikenali dari berbagai tempat di Jakarta. Bentuk bangunan ini tidak simetris di keempat sisinya, sehingga bisa dibayangkan posisi kita sedang di belakang, depan, atau samping dari Bank BNI itu.
Jika saya berada di Jakarta, membuka tirai jendela hotel, dan melihat bangunan tersebut, saya segera memperkirakan berada di sebelah mana dengan memperhatikan bentuk yang terlihat. Saya juga segera berorientasi, seberapa jauh dari bangunan tersebut, dengan melihat ukuran relatifnya.
Saya juga sering menduga-duga letak kampung Karet Berkah tempat Adit-Sopo-Jarwo tinggal jika menonton kartun televisi tersebut. Di latar belakang scene film kartun televisi tersebut sering digambarkan gedung Bank BNI itu di kejauhan.

***
Maka, membuat suatu unsur kota yang unik, kemingat (memorable), monumental, dapat membantu seseorang, warga, serta publik untuk mengenali kota atau bagian kota tersebut. Hal ini dapat juga menjadi sarana promosi bagi pemilik atau pengguna unsur kota seperti tugu atau bangunan. [z]