Bulan ini cukup istimewa bagi saya, dalam kaitannya dengan Hari Ibu. Saya pergi ke museum (yang berada di kompleks) Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia yang dimiliki oleh Yayasan Hari Ibu minggu yang lalu, untuk memenuhi undangan perayaan 72 tahun Yayasan Hari Ibu.

Seperti namanya, monumen ini digunakan untuk memperingati peristiwa penting pagi pergerakan wanita Indonesia tersebut. Di dalam monumen terdapat berbagai fasilitas, termasuk museum. Kebetulan, beberapa bulan yang lalu saya mendapat perpanjangan tugas sebagai anggota dewan kurator museum ini.
Di tersebut museum tersimpan antara lain dokumentasi kongres (reproduksi), memorabilia Yayasan Hari Ibu, serta memorabilia tokoh-tokoh perempuan. Vandel organisasi-organisasi anggota Kowani tergantung di langit-langit ruang pamer. Beberapa objek telah menjadi Cagar Budaya yang ditetapkan oleh bupati Sleman, termasuk lokasi monumen sebagai situs Cagar Budaya.
Minggu sebelumnya, saya ke Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Saya lihat ada diorama Kongres Perempuan Indonesia I di Ruang Diorama I. Kongres tersebut diselenggarakan di Dalem Joyodipuran, sekitar satu kilometer ke arah selatan dari benteng ini. Tanggal pelaksanaan kongres tersebut (pembukaan?) kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu, seperempat abad kemudian.
Scene yang ditampilkan dalam diorama tersebut adalah suasana sidang di pendopo dalem. Seingat saya, diorama serupa juga terdapat di Museum MKPWI.
Dalem Joyodipuran sendiri saya kunjungi mungkin di pertengahan tahun, untuk survei rekomendasi penetapan/pemeringkatan Cagar Budaya, setelah awal tahun juga beberapa kali ke tempat ini untuk persiapan Kongres IAAI. Bangunan ini dibeli oleh pemerintah dan kemudian direnovasi, menjadi salah satu kantor pemerintah pusat di bidang kebudayaan, yang dikenal di kalangan kami dahulu dengan panggilan “Balai Kajian”, singkatan dari nama Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Nama dan lembaga ini berganti-ganti, hingga sekarang menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah X setelah melebur bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I. Yogyakarta.
Beberapa penanda disematkan di kompleks bangunan ini, yang menyatakan bahwa Dalem Joyodipuran adalah cagar budaya karena digunakan sebagai tempat pelaksanaan Kongres Perempuan I. Beberapa foto terkait dengan kongres tersebut juga tergantung di ruang pertemuan.
Di kota Yogyakarta terdapat setidaknya satu situs pergerakan wanita lain terkati dengan kongres perempuan, yaitu kompleks Asrama Seri Derma. Fasilitas ini dibangun sekitar tahun 1950-1960-an, merupakan pelaksanaan amanat dari kongres perempuan juga. Saya mengunjungi tahun 2023 atau 2024, saat survei untuk rekomendasi penetapan Cagar Budaya.
***
Tentu masih banyak situs terkait dengan gerakan perempuan di kota Yogyakarta. Organisasi Aisyiah misalnya, yang dahulu juga merupakan peserta dari Kongres Perempuan I tersebut, lahir di kota ini sehingga pasti (semoga) masih terdapat lokasi bersejarah yang terkait.
Situs-situs ini kemudian dapat dihubungkan, menjadi paket edukasi tentang pergerakan perempuan. MKPWI yang memang merawat ingatan atas peristiwa dan nilai-nilai kongres, dapat menjadi hub, simpul penghubung. [z]
Baca juga: